Pernah Bergerilya saat Konflik hingga Jadi Fotografer, Chaideer Gelar Pameran Foto Tunggal di Jerman

Serambi Indonesia, 07 Desember 2017

http://aceh.tribunnews.com/2017/12/07/pernah-bergerilya-saat-konflik-hingga-jadi-fotografer-chaideer-gelar-pameran-foto-tunggal-di-jerman

Serambi-logoSERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Bagi kalangan jurnalis di Banda Aceh, namanya sangat tidak asing. Abu, begitu ia dipanggil rekannya sehari-hari.

Nama lahirnya Chaideer Mahyuddin. Pria kelahiran 1975 di Lamno Aceh Jaya, yang kini menjadi seorang fotografer dan bekerja pada kantor berita Agence France-Presse (AFP).

Chaideer, bukanlah seperti jurnalis pada umumnya. Ia punya pengalaman menarik sebelum terjun dalam dunia jurnalistik.

Chaideer adalah salah satu pemuda Aceh yang ikut bergerilya bersama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat konflik Aceh berkecamuk, medio 2000-2004 silam.

fotografer-aceh-chaideer-mahyuddin_20171207_144638

Chaideer Mahyuddin menunjukkan foto-fotonya pada pembukaan pameran foto di Kota Berlin, Jerman, Selasa (5/12/2017) waktu Jerman.

Suami dari Eliyana ini, ikut berjuang bersama kombatan GAM kala itu, di kawasan Meureuhom Daya atau yang kini dikenal dengan Lamno, Aceh Jaya.

Pascaperjanjian damai antara RI dengan GAM 15 Agustus 2005 silam, Chaideer bersama rekan-rekannya kembali ke masyarakat.

Ia hidup seperti biasa dan meniti kembali kariernya sebagai kepala keluarga yang tentu harus melanjutkan hidupnya.

Namun, Chaideer memilih untuk pelan-pelan menguburkan masa lalunya, ia bahkan tak terlibat dalam politik praktis –kompensasi perang bagi eks GAM untuk memperjuangkan hak-hak Aceh melalui pemerintah dan parlemen– seperti sahabat-sahabatnya yang lain.

Chaideer memilih untuk bekerja lepas. Pascatsunami 2004 lalu, Chaideer dipercaya untuk bekerja pada NGO asing, kecakapannya berbahasa asing membawa Chaideer pada kesuksesan dalam pekerjaannya kala itu.

Dari situ, ayah dua anak ini seperti menemukan dunia barunya. Ia kemudian mengasah karier foto jurnalistiknya bersama media lokal, nasional, hingga internasional.

Cerita singkat di atas hanya sepenggal kisah Chaideer. Ia tak pernah mau bercerita panjang lebar soal itu.

“Itu cerita lama tak usah kita omongin lagi, yang jelas saya benci kekerasan,” ungkap Chaideer kepada Serambinews.com.

Perjuangan Chaideer menjadi seorang fotografer berbuah hasil, karya-karya Chaideer kerap menghiasi media-media nasional dan internasional.

Chaideer saban hari merekam berbagai kejadian di Aceh, sejak tsunami, proses perdamaian, rehab rekon, syariat Islam, budaya, hingga potensi wisata dan alam Aceh.

Dari balik lensanya, Chaideer merekam setiap momen-momen penting di Aceh dan membuka mata dunia tentang Aceh saat ini. Dedikasinya terhadap dunia jurnalistik dan Aceh sangat tinggi.

Karena dua hal tersebut, Chaideer terpilih oleh Watch Indonesia dan Goethe Institute untuk menggelar pameran foto tunggal di Kota Berlin, Jerman.

Ia dianggap fotografer dengan segudang prestasi melalui karya-karyanya. Chaideer juga menjadi contoh, bahwa suksesnya reintegasi dan rekonsiliasi pascakinflik di Aceh. Chaideer mampu meninggalkan image konflik dan berubah menjadi seorang yang ‘baru’.

Pameran foto tersebut berlangsung dari tanggal 5-18 Desember mendatang di pusat Kota Berlin. Chaideer berada di Jerman sejak 2-8 Desember. Ia turut hadir dalam pembukaan pameran fotonya itu, Selasa (5/12/2017) waktu Jerman.

Chaideer memamerkan sedikitnya 30 frame foto tentang potret Aceh usai konflik berkepanjangan.

Foto-foto bidikannya menceritakan Aceh dalam berbagai sisi, mulai dari tsunami Aceh, proses perdamaian, rekonsiliasi, rehab rekon, hingga Aceh kekinian seperti penerapan syariat Islam, politik, isu lingkungan, dan pariwisata.

“Secara pribadi, pameran ini sebagai prestasi yang luar biasa dan mimpi yang terwujud, tentunya dengan pameran ini bisa membuka mata orang luar tentang Aceh dan perkembangannya pascakonflik, bencana, dan damai,” kata Chaideer.

Melalui 30 frame foto karyanya itu, Chaideer ingin menjelaskan kondisi di Aceh sebenarnya.

Selama ini, katanya, yang paling disorot oleh masyarakat dunia tentang Aceh adalah soal pelaksanaan syariat Islam.

“Bicara Aceh nggak melulu soal syariat Islam. Syariat adalah salah satu aturan di Aceh yang dijalankan, tapi di balik itu semua ada sejarah panjang Aceh, juga ada budaya dan keindahan alam yang harus kita tunjukkan pada dunia,” ujarnya.

Chaideer mengaku, bahwa salah satu alasan ia diberi kesempatan untuk menggelar pameran foto tunggal karena ia pernah terlibat dalam konflik beberapa waktu lalu.

“Ya saya dianggap berhasil keluar dari image konflik, saya berhasil meninggalkan dunia saya sebelumnya. Tapi saya tidak perlu lagi menjelaskan kisah-kisah lama itu, sekali lagi terima kasih saya ucapkan kepada Watch Indonesia dan Goethe Institute,” pungkas pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh tersebut.

Sementara itu, Ketua PFI Aceh, Fendra Tryshanie, mengatakan, Chaideer Mahyuddin di kalangan pewarta foto Indonesia dikenal sebagai pribadi yang berintegritas tinggi.

“Jadi, dedikasinya untuk dunia fotografi Aceh telah terbayar dengan dipamerkan karya foto jurnalistik Chaideer di Eropa,” kata Fendra.

Tentu, lanjut Fendra, ini menjadi kebanggaan sendiri bagi PFI Aceh dan PFI secara keseluruhan.

“Harapan kami, ini bukan pertama dan terakhir bagi PFI Aceh. Semoga saja tekad Chaideer mengenalkan Aceh pada dunia, menular ke kawan-kawan PFI yang lain khususnya di Aceh,” pungkas Fendra.  (dan)


Tags: , , , , , , , , , ,


Share

Silakan berkomentar

You must be logged in to post a comment.

Aksi!


Hutan Hujan Bukan Minyak Sawit



Petisi



Menyusul kami