Selamat Jalan Alex

Alex Flor 1998 in Jakarta

 

Pemuda jerman berambut kriting dan berkumis itu selalu ramah dan berkata ”selamat malam” apabila dia selesai belajar bahasa indonesia dari ruangan depan dan melewati kami yg sedang sok sibuk membuat klipingan berita dari indonesia untuk disebar di Berlin ini.

Setelah beberapa kali bertemu, saya tahu namanya, Alexander Flor, mahasiswa TU yg sedang kuliah technik lingkungan.

Alex, begitu kami memanggilnya ternyata sangat antusias untuk ikut bergabung dengan kami mendirikan organisasi persahabatan jerman -indonesia DIG ( Deutsch Indonesische Gesellschaft ev.)..Memang waktu itu sudah ada beberapa dig lainnya di jerman barat, tapi mereka adalah gabungan orang jerman  bapak bapak dan emak emakyg tertarik dng masalah indonesia dan orang orang kedutaan´. Kami di Berlin membuat persahabat jerrman indonesia yg agak lain, antar mahasiswa indonesia dan mahasiswa jerman, seperti Alex ini.

Dalam setiap rapat, Alex selalu hadir dan rajin menjadi notulen.

Waktu di Timor Leste ada pembantaian, tepatnya di kuburan santa cruz, kami DIG ingin menggelar video yg sempat dibikin secara sembunyi sembunyi oleh wartawan Australia dan Belanda. Ada rapat sebelumnya di DIG, sebagian, baik jerman maupun indonesia tidak mau dan yg lainnya tidak takut, Alex termasuk kedalam kelompok yg tidak takut Supaya anggota DIG lainnya merasa ”aman” akhrinya kami memutuskan menggelar acar itu dengan nama ”Watch Indonesia”..kenapa bukan indonesian watch ?. Saya males bercerita.

Nah setelah adanya Watch Indonesia ini Alex semakin rajin..begitupun  dng bahasa indonesianya yg semakin bagus. Dia sanngat aktiv ikut membesarkan organisasi ini. Singkat cerita Alex sejak awal ada di Watch Indonesia.

Kami sering bepergian bersama untuk ikutan beberapa seminar atau rapa di kota lain, salah satunya di Iserlohn, kota kecil di Jerman Barat..setelah acara resmi biasanya kami ngobrol sambil ngopi atau minum bir dng peserta lainnya, beberapa orang ada yg bertanya kepada saya dan Alex, apakah mereka boleh menggunakan nama Watch Indonesia apabila mereka melakukan aksi solidaritas untuk timor timur ( timor leste), Aex menoleh ke saya, bagaimana ?- saya sih boleh boleh saja dan Alexpun setuju, maka berdirilah di Jerrman barat ”Watch Indonesia sektion Ost Timor”.

Jadi waktu si Suharto masih berkuasa di Indonesia, kami di Berlin ini ikut mendukung semua gerakan kawan kawan yg muak dng kekuasaan orba ini, baik di Indonsia maupun tempat lainnya di dunia ini.

Begitupun ketika Habibi yg di Indonesia sampe saat ini dianggap orang baik bertindak menjadi mekelar pembelian kapal perang bekas dari jerman yg sudah bersatu, kami melakukan aksi protes, kami pergi ke Pennemunde, dimana kapal itu diparkir sebelum dikirim ke indonesia. Alex seneng sekali waktu kami naik ke salah satu kapal dan entah apa yg Alex bawa sbg kenang kenangan dari sana. Karena aksi ini, ada beberapa peserta, dari organisasi lainnya ( wolfpelz, anti krieg anti fasis dari leipzig) ditangkap polisi dng tuduhan menghina mentri pertahan jerman ( mereka bikin poster, ”orang ini ikut bertanggunh jawab akan permbunuhan di timor timur ). Persidangan di gelar di kota Halle. Kamipun, saya dan Alex naik taksi ..ha..ha..ha ( almarhun Sunarto, exil Indonesia yg juga anggota Watch Indonesia, pekerjaaannya punya taksi). Di sana ada beberapa wartawan televisi Jerman yg meliput. Salah seorang wartawan itu berkata kepada saya : ”der da, dein landsman, kann ja sehr gut deutsch sprechen, nicht wie du / itu temanmu senegara, koq bahasa jermannya bagus sekali, tidak seperti kamu …” yang mana tanya saya..si wartawan nunjuk Alex sambil berkata ; dia kan juga orang indonesia ??. saya jawab ; iya.

Begitupun ketika kami diundang peluncuran buku di Belanda, kami naik taksi dari jerman sampai kesana..ha..ha, Alex duduk di depan sebelah Narto, saya di belakang. Sampai di tujuan, saya terbangun oleh percakapan antar Narto dan Alex : Kamu tahu dimana alamatnya Suhaemi ?- Iya. ..lha, koq dari tadi kita muter muter terus, kamu nggak catat alamat itu  ? kata Alex. Narto ( dng bangga) : ‘ jaman perjuangan kami tidak boleh membawa dokumet, kalau ketangkep musuh bisa berabe..” . Alex : ”pantesan kalian kalah oleh suharto…ha..ha..ha”

Arrgh..banyak sekali cerita ttg Alex ini..saya nggak kuat lagi..sedih..dia ke surga

Alex 2015 im Watch Büro

duluan…

Asep

******************

Selamat jalan Alex Flor sahabat yang trus menyuarakan suara korban ketidakadilan di Indonesia semoga beristirahat dengan damai.
Duka kami atas kehilangan ini.

Suciwati
Pendiri Museum HAM Munir

******************

Mendapat WA dari Dee Hasyim, tentang kepergian seorang sahabat, Alex Flor, terasa tidak percaya. Saya lihat FBnya Dina Sihombing, istri Alex, ya ternyata Alex sudah pergi selamanya. Alex adalah salah seorang sahabat selama saya kuliah di Berlin. Alex lah juga yang pernah mengajak saya untuk duduk menjadi Pengurus Yayasan Watch Indonesia, sebuah LSM berbasis di Berlin, yang sangat kritis atas Indonesia. Alex memimpin LSM ini dan seorang tokoh penting untuk isu-isu Indonesia di kalangan NGO Jerman yang punya concern tentang Indonesia. Alex seorang pribadi yang menarik dan juga sahabat yang baik. Dari Alex juga saya belajar banyak tentang bagaimana politik dan dinamika Jerman. Selamat jalan Alex.

Syafiq Hasyim

******************

Sungguh terkejut mendapatkan berita duka ttg meninggalnya kawan kita Alex Flor (pendiri Watch Indonesia) pada hari Kamis minggu lalu, karena pendarahan otak. Semua yg terbaik dari Almarhum sebagai pegiat HAM dan lingkungan hidup, terutama kepeduliannya terhadap Indonesia, akan dikenang generasi penerusnya.      

Terimakasih Bung Alex,  beristirahatlah dengan tenang dalam kedamaian abadi   🙏

Arif Harsana

******************

RIP bung Alex Flor. Mengejutkan dan menyedihkan mendengar ke pergian bung ke dunia baru.Semoga bung berbahagia. Aku merasa masih mendengar suara bung waktu pertemuan terakhir di Berlin. Selamat jalan.

Putu Oka Sukanta

******************

Ich habe selten einen integren, aufrichtigeren und engagierteren Menschen getroffen als Alex. Und herzenswarm war er. Dazu auch noch sehr klug.
Ein schwerer Verlust für alle Indonesien Aficionados.
Danke Alex
 
Wer du auch seist: am Abend tritt hinaus
Aus deiner Stube, drin du alles weißt;
Als letztes vor der Ferne liegt dein Haus;
Wer du auch seist.
 
Dr. Werner Kraus
 
******************
 
Ich denke, Ihr stimmt mir zu:
Alex Flor war ein sehr effektiver und glaubwürdiger Anwalt Indonesiens und der Wahrung der Menschenrechte und demokratischer Grundrechte.
 
Peter Demberger & Prof Dr. Friedhelm Göltenboth
 
******************
 
Ich habe Alex Mitte der 90er Jahre im Rahmen einer Kampagne gegen deutsche Rüstungslieferungen nach Indonesien kennengelernt. Kriegsschiffe der alten NVA wurden unter der Kohl Regierung  an seinen Anglerfreund Suharto geliefert. Ich erinnere mich an viele Treffen und Veranstaltungen mit Alex. Vor allem lange wortgewaltige Diskussionsabende mit ihm und den süßlichen Geruch seiner Indonesischen Zigaretten. Sehr lange habe ich nichts von ihm gehört. Nun ist er für immer gegangen. Wie schade.
 
Andrea Kolling, Bremen
 
******************
‚Watchies’
 
Tieftraurig in Jakarta. Alex, Moni, Pipit, Edith, Yayak, Warsito, Frank, Asep, Michaela,, waren die Wegbereiter von Watch Indonesia, die ich in den 90er Jahren kennengelernt habe – später, beruflich, auch Nadja. Sie alle hatten einen Anteil daran, dass ich auch 25 Jahre später noch in Indonesien bin, Osttimor, Aceh, Papua Erfahrungen aus erster Hand, ein Vierteljahrhundert, inbegriffen. Die Diskrepanzen der vergangenen Jahre waren traurig. Heute trauere ich um meinen Freund und Wegbegleiter Alex.
 
Möge Alex in Frieden ruhen! R.I.P. TEMAN. Rindu, selalu!
 
Jörg Meier
 
******************

Alex seseorang dari begitu sedikit orang yang secara konsisten dan integritas memberikan waktu berharganya dengan terus memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Semoga lebih banyak terinspirasi olehmu
 
Lea Pamungkas
Seorang rekan, penulis dan aktivis
Tinggal di Belanda
 
******************
 
Turut berduka cita
Kuyakini kepergianmu memberi bekas kehilangan yang sangat di banyak tempat.
RIP Alex Flor… Mulianya segala yang telah kau lakukan untuk Indonesia…
telah menempatkan -Matamu, Hatimu dan Pikiranmu pada Indonesia karena kecintaanmu pada Nusantara di sana.
Selamat Jalan, ALex Flor.
 
Dyah Narang-Huth, Hamburg
 
******************
 
Dear Alex,
semoga di hembusan nafas terakhirmu ada damai yang jiwamu bawa ke dimensi selanjutnya.
Satu diskusi yang tidak pernah saya lupa denganmu adalah cerita tentang buah tomat dari Medan. Obrolan santai yang menyenangkan di tepi sungai Main, Frankfurt di hari terakhir Frankfurt Book Fair tahun 2015.
Saat itu saya sedang belajar mendirikan organisasi nirlaba di Hannover, bersama rekan-rekan seperjuangan. Darimu, banyak perspektif lain yang bisa saya pelajari.
Walaupun kita hampir tidak pernah sependapat, satu hal yang saya tau pasti kita sejalan: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus ditegakkan, diperjuangkan, dan dirawat.
Selamat jalan dengan damai Alex.
 
Salam hangat,
Aci Siddharta
 
******************
 
Lieber Alex,
Kami di Indonesia mendoakan semoga kamu sudah berada dalam Ewige Frieden.
Dan juga keluargamu mendapat penghiburan dan kemudahan di Bumi ini🙏🙏
 
Gott sei mit Euch🙏🙏
Bobby B
 
******************
 
Semoga arwah nya di terima disisi Nya.
 
Alex Flor adalah pendiri, pelopor, penggiat Watch Indonesia!, yg banyak mencurahkan baik pikiran maupun tenaga nya untuk pergerakan, perkembangan HAM, Demokrasi. 
 
Secara Universal pandangan Dia banyak diterima oleh Masyarakat luas.
 
Kami menyampaikan duka sedalam2 nya.
Amin.
 

APII Jerman

 
******************
 
Ich habe Alex in Padang West Sumatra kennengelernt, als er dort als Student ein Praktikum machte. Später traf ich ihn wieder in Aceh, wo ich für den Wiederaufbau nach dem Tsunami arbeitete. Wir haben uns immer gut verstanden und gute Gespräche geführt. Ich bin in Gedanken bei seiner Witwe und der Familie.
Moege er in Frieden ruhen!
 
Michael Zoeller,  Bali
 
******************
 
Selamat jalan Alex. Semoga sekarang mendapatkan kedamaian yang didambakan!terima kasih atas usaha yang tak kenal lelah bagi kebaikan negara yang dicintai.
 
Jan van der Putten
Universitas Hamburg
 
******************
 
 

Mian Manurung

Friedrich-Ebert-Stiftung Indonesia Office

 
******************
 
Alex erinnern
 
Der viel zu frühe Tod von Alex hat mich tief betroffen. Seiner Familie gilt mein Mitgefühl und ich nehme Anteil an ihrem Verlust.
Er war die treibende Kraft für die Arbeit von Watch Indonesia, ohne ihn wäre die Organisation nicht dort, wo sie heute steht. Als studentischer Mitbegründer von Watch Indonesia habe ich in den 90ger und 2000er Jahren zunächst aktiv, später als unterstützendes Mitglied aus der Ferne die vielfältigen Aktivitäten von Watch Indonesia begleitet, stets mit großem Interesse und Sympathie. Alex Flor war derjenige, der über all die Jahre wichtige Themen für die Öffentlichkeit und für das Netzwerk bereitgestellt hat, er hat unermüdlich Aktionen koordiniert und mit unzähligen Partnern  Kontakt und Austausch ermöglicht, stets überzeugt von der Sache um die es uns von Anfang an ging: eine hörbare Stimme in der deutschen Hauptstadt zu etablieren, ein Austauschforum und aktive Informationsbörse für alle, denen Menschenrechte, Demokratie und der Erhalt der großartigen Kulturen und Naturschätze Indonesiens ein Anliegen ist. 
 
Alex war das öffentliche Gesicht und erster Ansprechpartner von Watch Indonesia, er hat sich in den Wind gestellt, wo er wehte oder stürmte, hat Stellung bezogen und klare Haltung gezeigt. Ich danke ihm für diese  Klarheit der Standpunkte und seine immer gut begründete Unbeirrbarkeit, mit der er sich für unsere gemeinsamen Ziele eingesetzt hat.
 
Martin Klein
Seeg im Allgäu,07. Mai 2021
 
******************
 
Sedih dan merasa kehilangan ketika mendengar berita pagi ini. Yang saya kenal Alex adalah orang yg suka humor dan menyenangkan dalam situasi kasual. Akan tetapi mengikuti jejak aktivismenya, Alex adalah sosok yg penuh dedikasi terhadap visi dan misi kemanusiaan. Kini raganya pergi tapi semangat dan dedikasinya akan terus menginspirasi kita semua.Harap dan doa untuk istri dan keluarga yang ditinggalkan, agar selalu mendapatkan penghiburan dan penguatan dari Yang Maha Kuasa. 
 
Selamat Jalan Alex
 
Salam Eman
 
******************
 
Ich habe Alex das erste Mal getroffen als ich mit anderen Doktoranden, die zu Indonesien arbeiteten, in Berlin zusammenkam. Das war 2011, glaube ich, und seitdem hat mich vor allem seine Art zu denken nicht mehr losgelassen. Seine scharfen Analysen, z.B. in der Suara oder im Newsletter wie auch in persönlichen Gesprächen und Vorträgen haben mich beeindruckt. Alex hat nie etwas beschönigt, was mich beeindruckte war eine absolute Ehrlichkeit. Ich hatte immer das Gefühl, dass es ihm darum ging, das zu sagen was ist, Partei zu ergreifen für die, die Solidarität nötig haben, auch wenn ihm immer klar war, dass das für jemanden, der zu Indonesien arbeitet, oft ein unbequemer Weg ist. In seiner radikalen Ehrlichkeit blieb ihn dann oft nur noch Ironie und mitunter Sarkasmus, aber Alex war immer der Beweis, dass diese Formen des Humors nicht einfach in eine Haltung abdriften, der alles egal ist.
Ganz im Gegenteil, Alex war immer engagiert. Ich würde ihn selamat jalan wünschen, wenn ich denn an ein Jenseits glauben würde. Das tue ich nicht, aber ich würde es ihm von ganzem Herzen gönnen. Das was ich weiß ist nur, dass ich hoffe, dass seine Art zu denken im Denken anderer weiterlebt: Missstände klar zu sehen und zu benennen mit einem Humor, der nichts beschönigt und dennoch zum Ausdruck bringt, dass das, was ist, nicht alternativlos ist, dass es sinnvoll ist für etwas einzustehen, auch wenn man auf verlorenem Posten steht.
 
Terima kasih, Alex, perjuangan kita akan berlanjut!
 
Timo Duile
(Wissenschaftlicher Mitarbeiter an der Abteilung für Südostasienwissenschaft der Universität Bonn)
 
******************
 
Lieber Alex,
erst kürzlich dachte ich an Dich mit einem Lächeln im Gesicht. Bei unseren Treffen im Rahmen der Westpapua-Sitzungen auf dem heiligen Berg in Wuppertal trafen wir uns immer vor Beginn der Sitzungen im Speisesaal und jedes Mal- wirklich jedes Mal- hatte ich kein Geld mit, um mir einen Kaffee zu kaufen. “Hast du mal einen Euro?” wurde zu einem geflügelten Wort zwischen uns und selbst in Deinen Emails an mich ins Büro schriebst Du immer: “Mach Dir keine Gedanken, ich bringe Dir auch einen Euro nach Wuppertal mit”. Natürlich bin ich Dir diesen Euro nie schuldig geblieben, spätestens abends beim Bier in der Lounge bekamst Du ihn zurück. Diese kleine Anekdote wird mich immer an Deine Hilfsbereitschaft erinnern. Wie oft kam ich an meine Grenzen, wenn es um die richtige Einordnung der indonesischen Politik im Hinblick auf die pazifischen Inselstaaten ging. Immer wusstest Du dazu etwas zu sagen, was mir mangels eigener Indonesien-Expertise zuvor nicht aufgefallen war. Ich werde mich gerne und mit Wehmut an Dich erinnern!
 
Julia Ratzmann
Leiterin der Pazifik-Informationsstelle in Neuendettelsau
 
******************
 
Ich bin sehr traurig über den so plötzlichen Tod von Alex. Ich werde ihn im Gedächtnis behalten mit seiner rauen Herzlichkeit, mit seinem unerschöpflichen Wissen und Engagement für Mensch und Natur in Indonesien und Ost-Timor und mit seinem Kämpferherzen.
 
Dietrich Weinbrenner
(Beiratsmitglied im Westpapua-Netzwerk)
 
******************

Erinnerungen an Alex Flor.

Es ist schwer zu begreifen, dass Alex nicht mehr da ist. Schon sein Weggang von Watch Indonesia war für mich als Außenstehende nur schwer zu verstehen. Aber der endgültige Abschied ist nochmals etwas ganz anderes.
Ich kann mich gar nicht mehr erinnern wie, wann und wo wir das erste Mal Kontakt hatten, aber das geht bestimmt in die Anfangszeiten von Watch Indonesia Anfang der 9oer Jahre zurück. Wir kamen zu der Zeit mit unserer Familie von einem dreieinhalbjährigen Aufenthalt aus Jakarta, das geprägt war von der bleiernen Suhartozeit zurück. Wir haben begierig die Informationen und das Angebot von Watch Indonesia aufgegriffen. Wir sind uns nicht oft real begegnet, aber ich habe Alex immer als Eiche, als Stütze, als pohon beringin von Watch Indonesia wahrgenommen und wir hatten immer wieder Kontakt. Ich habe Alex als äußerst freundlich, hilfsbereit, umsichtig und kreativ erlebt.
Einmal hat er einen kleinen Artikel über mich in unserer Lokalzeitung  bei seiner Presserecherche ausfindig gemacht, wahrscheinlich weil dort der Begriff Indonesien vorkam, und hat mir gleich geschrieben. So kamen wir wieder in Kontakt.  
Als hervorragender Kenner und Experte der Situation in Indonesien, hat er hochengagiert den Finger in die Wunden gelegt und auch unangenehme Wahrheiten ans Licht gebracht oder thematisiert. Ich habe seine Beiträge sehr gerne gelesen, weil ich mich danach umfassend informiert fühlte.  

Selamat Jalan und herzlichen Dank für Alles
Hildegard Wenzler-Cremer, Freiburg

 
******************

Lieber Alex.

Wir haben uns drei Jahrzehnte lang gekannt, und ich war immer zutiefst beeindruckt von deiner großen Engagement für Menschenrechte in Indonesien und Ost Timor, wie auch für viele andere lobenswerte Tätigkeiten.
So traurig dein plötzliches Ausscheiden aus unser Leben ist, so mehr wünsche ich dir: Ruhe in Frieden in einer verdienten besseren Welt.

Dein Waruno

******************

R.I.P. Alex Flor
 
Seorang kawan telah pergi: Alex Flor. Lama ia menjadi wajah dari WatchIndonesia, perkumpulan di Berlin Barat yang mengangkat berbagai masalah hak-hak asasi manusia di Indonesia dan Timor Leste. Alex semula giat dalam DIG Deutsch Indonesische Gesellschaft, sebuah perkumpulan yang berdiri sebagai hasil reunifikasi Jerman pada 1990. Namun DIG enggan bergerak di bidang politik dan kemasyarakatan. Sejak Peristiwa Santa Cruz, Dili, Timor Leste 1991 Alex meninggalkan DIG dan bersama sejumlah sejawatnya mendirikan WatchIndonesia. Banyak teman di Indonesia dan di Belanda mengenalnya, bekerjasama dengannya dan mengenangnya.
Watch1965 di Belanda turut menyampaikan salam duka. Terima kasih atas jerih-payah dan kesetiakawananmu. Beristirahatlah kini dalam kedamaian.
 
W65
 
******************
 
Mit großer Trauer und Bestürzung hat mich die Nachricht vom Tod Alex Flors erfüllt. Ich möchte seiner Familie und allen Kolleginnen und Kollegen bei Watch Indonesia mein aufrichtiges und tiefempfundenes Beileid aussprechen. Ich kannte Alex Flor schon über 20 Jahre über die Arbeit zum Pazifik. Wir haben nie intensiv zusammen gearbeitet, ich habe sein leidenschaftliches und von hohem persönlichen Engagement getragenes Wirken für die Menschen in Indonesien aber immer aus der Halbdistanz sehr bewundert. Mit Herz und Hand für die Menschen vor Ort, so wird er mir unvergesslich in Erinnerung bleiben. Ich hoffe, diese außergewöhnliche Leidenschaft für die Menschenrechte wird noch lange im Wirken von Watch Indonesia nachklingen und damit die Erinnerung an ihn präsent halten.
 
In stiller Trauer,
Klaus Schilder
 
******************
 
Alex war einer der nettesten, lustigsten Menschen, die ich je kennengelernt habe. Er wird uns allen fehlen.
 

Moritz Kleine-Brockhoff

******************

Lieber Alex,
wir treffen irgendwann und irgendwo wieder.
 
RIP
Suisan
 
******************
 
Die Bekanntschaft mit Alex Flor und die Arbeit bei Watch Indonesia! hat mich zum Ende meiner Studienzeit und am Anfang meiner Arbeitszeit sehr geprägt. Ich hatte mich für ein Praktikum beworben, aber keine Antwort erhalten! Ich war schon sehr enttäuscht, da ich dachte ich bin nicht qualifiziert genug. Eines Abends bin ich durch Zufall an dem alten Büro am Planufer 92d vorbeigelaufen. Da fand gerade eine Watch Sitzung statt. Es war schon etwas dunkel und ich konnte drinnen Alex und einige andere Kollegen sehen wie sie wild diskutierten und Bier tranken. Ich dachte mir ich klopfe einfach mal an, und frage ob sie meine Bewerbung erhalten haben und ob sie vielleicht doch Interesse haben. Ich wollte unbedingt zu Indonesien arbeiten. Da habe ich Alex Flor zum ersten Mal kennen gelernt. Bald darauf begann ich meine Arbeit als studentische Hilfskraft. Alex war dabei ein große Inspiration. Mir gefiel sein analytischer Verstand, seine Professionalität, aber auch seine Kompromisslosigkeit und Energie, mit der er immer wieder auf Misstände in Indonesien hinwies. Seine cleveren Texte und Analysen zur indonesischen Politik habe ich auch viele Jahre später noch gelesen und als Referenz genutzt. Aber am meisten werde ich in Erinnerung behalten die vielen Tage und Abende die wir zusammen mit anderen Watchies in Berlin verbracht haben, beim Fachsimplen, mit Bier und viel Humor.
 
Salam hangat Alex Flor, selamat jalan
 
Jasmin
 
******************
 
Selten hat mich der Tod eines Menschen so berührt wie der von Alex – und dies, obwohl wir uns nur ganz selten (auf Seminaren) persönlich trafen und ich schon jahrelang auch keinen anderen direkten Kontakt mehr zu ihm hatte.
Wann immer ich anlässlich meines früheren Engagements zu West Papua und Papua Fragen hatte, konnte ich mich an Alex wenden und traf dabei auf einen Charakter, der meine Anliegen ernst nahm und dabei zugleich menschlich, kompetent und engagiert war und mir sein Wissen zur Verfügung stellte. Es tut mir weh, dass er nicht mehr da ist und daran merke ich jetzt, wie wichtig er für mich war.
Ich wünsche ihm Frieden.
 
Brigitte Klopfer, Malaysia
 
******************
 
Alex war nicht nur eine treibende Kraft bei der Gründung von Watch
Indonesia sondern hat auch wesentlich dazu beigetragen, dass wir uns innerhalb der
Bundesrepublik und darüber hinaus kennen lernen und vernetzen
konnten. Dies alles mit großem persönlichen Einsatz. Und nein, er war
nie einfach. Es gab viele gute und viele schwierige Momente. Ich
wünsche ihm, dass er auch in der der Zeit nach seiner Trennung von
Watch Indonesia Frieden finden konnte.
 
Esther
 
******************
 
Die Nachricht, daß unser langjähriger Wegbegleiter und zuverlässiger Informant Alex Flor plötzlich und unerwartet von uns gegangen ist, stimmt uns im AK Papua in der Ev. Kirche der Pfalz sehr traurig und nachdenklich.  Als langjähriger Geschäftsführer von Watch Indonesia hat er uns objektiv und engagiert berichtet, wie sich die Situation der Menschen, Gesellschaft und Politik in Papua entwickelten. Dabei konnten wir uns darauf verlassen, daß seine Informationen wissenschaftlichen Kriterien standhielten und auf qualifizierter Recherchearbeit basierten. Alex Arbeit war in Deutschland und darüber hinaus bei Nichtregierungsorganisationen ebenso gefragt und anerkannt wie von GesprächspartnerInnen in Politik und Wirtschaft. Er war fachlich-versierter Advokat, wenn Menschenrechtsfragen und politische Eindeutigkeit zur Debatte standen, verstand sich dabei zugleich aber auch als diplomatischer Kommunikator, der Tore öffnen und Brücken bauen konnte. Seine Direktheit in der Kommunikation und seine Streitbarkeit, sein Humor und seine Ironiefähigkeit waren für manche gewöhnungsbedürftig, immer aber herzlich, aufrichtig und zugewandt; er ließ sich nicht verbiegen.
 
Alex, der lange Jahre im Beirat des Westpapua-Netzwerkes mitgearbeitet hat, war regelmäßiger Teilnehmer und mehrfach Referent bei den Papua-Partnerschafts-Seminaren. In dem Zusammenhang hat er auch immer wieder die Seminare in der Pfalz besucht und uns seine Kenntnisse und seinen Rat zur Verfügung gestellt. Auch nach seinem Ausscheiden bei Watch Indonesia sind wir im Kontakt geblieben; im Februar vergangenen Jahres hat er uns zuletzt hier in Rockenhausen besucht und sich immer wieder auch mit Mails an unserer Arbeit solidarisch interessiert.
 
Wir denken gerne und dankbar an ihn und die Seinen und an die Impulse, die wir Alex verdanken.  Gott gebe diesem kritischen Sucher und Freund der Gerechtigkeit seinen Frieden, tröste die, die um ihn trauern und halte sein Vermächtnis in uns lebendig.
 
In stillem Gedenken,
AK Papua der Ev. Kirche der Pfalz
 
******************
 
Alex Flor, ein persönliches Wort für einen Freund
Von Ingo Wandelt,
Wuppertal
 
Lieber Alex,
Du warst ein Freund. Trotz der räumlichen Distanz unserer Wohnorte: Du in Berlin, ich im Rheinland. Die Email, und sehr oft das Telefon waren es, die uns in Hunderten von Gesprächen, persönlichen Diskussionen und selten auch mal einem Disput immer wieder zusammenführten. Und natürlich das persönliche Gespräch, das Wort – Dein erstes Medium – und der Text, das geschriebene Wort. Dein zweites Medium, dass Du perfekt zu beherrschen vermochtest. Wie oft wir uns irgendwo in der Bundesrepublik zusammengefunden haben, weiß ich nicht mehr. Es war sehr und unzählbar oft. Über fünfzehn Jahre haben wir zusammengearbeitet und gestritten. Für ein Indonesien jenseits von Suharto und seinem Militärregime. Für ein Deutschland, dass sich für seine eigenen Werte von Demokratie und Menschenrechten in und für Indonesien einzusetzen habe. Dafür wurdest Du ein Gesicht, eine Persönlichkeit für ein besseres Indonesien und wahrhaftigere deutsch-indonesische Beziehungen. So hast Du dich zu einer Säule manch einer NGO, manch einer Gruppierung und Initiative, und ungezählter Versammlungen, Sitzungen und Seminare gemacht. Nicht nur, aber vor allen anderen für Watch Indonesia!. Das sollte nie in Vergessenheit geraten.
 
Du warst unermüdlich in Deiner Energie Dich einzusetzen für das, was Du als richtig und wahr empfunden hast. Dein Arbeitstag ging meist rund um die Uhr. Freie Tage kanntest Du nicht. Du warst energisch, drängend aber nie verbissen. Ich habe an Dir stets Deinen Humor geschätzt, der jedem Gespräch mit Dir einen menschlichen Wellengang unterlegte. Nur so warst Du fähig, die Monstrositäten der Suharto-Zeit, die zutiefst ungerechten Zustände in Indonesien und Osttimor, die Dich und uns umtrieben, auszuhalten und Wege aus ihnen aufzuweisen. Schritt für Schritt und immer beharrlich nach vorn. Schließlich erfolgreich. Indonesien hat die zählebige Diktatur überwunden. Dazu hast auch Du, Alex, Deinen Teil beigetragen.
 
Dein Ernst in der Sache war untrennbar verwoben mit menschlicher Zuwendung. Unzähligen Menschen hast Du fassbare Hilfe gegeben. In Wort, Tat und oft in Form geldlicher Unterstützung. Eigennutz, Protz und äußerer Schein waren niemals Dein Ding. Teure Klamotten, wer braucht die schon! Du hast durch Tun überzeugt. All diesen Menschen, in Indonesien wie auch in Deutschland, werden Deine Unterstützung niemals vergessen. Auch ich bin glücklich, von Dir viel empfangen zu haben.
 
Alex, Du bist ein wahrer Freund Indonesiens. Du hast Deine Liebe zu Menschen und Land tagtäglich bewiesen. Damit hast Du eine gigantische Menge an gutem Karma auf Deinem seelischen Konto angehäuft. Wie Deine geliebte Ehefrau schreibt: Du bist ein guter Mensch, ein orang baik.
 
Ich bin froh und stolz, Dich meinen Freund nennen zu dürfen.
Alex temanku, selamat jalan. Eine gute Reise, und wir werden uns wiedersehen.
 
Ingo
 
******************

Das sollte nicht geschehen! Ich bin sehr traurig und schockiert. Alex kannte ich eine gefühlte “Ewigkeit” in Bezug auf Indonesien. Wir waren ständig im Austausch miteinander. Ich hatte immer erwartet, ihn zu treffen. Und er hatte ebenso immer erwartet, mich zu treffen. Allerdings, in der letzten Zeit waren die Begegnungen seltener geworden. Nun ist er von uns gegangen! Neben meiner tiefen Trauer spreche ich seiner Frau, seinen Eltern und der weiteren Familie mein Beileid aus!

In Trauer,

Karin Dewitz

******************

Das sind ja schockierende Nachrichten, dass Alex tot ist. Erst gestern hatte ich gedacht, dass ich fast nichts mehr von ihm gehört habe, seit er bei Watch aufgehört hat. Was er wohl jetzt macht, habe ich mich gefragt, kann er überhaupt loslassen? In der Pandemie bekommt man von vielen Menschen leider nicht mehr so viel mit und ich dachte, das ändert sich hoffentlich bald. Aber doch nicht so!

Ich habe Alex etwa 1990 kennen gelernt, damals hatten wir in der Asien AG der Stiftung Umverteilen die ersten Anträge aus Indonesien bekommen und deshalb habe ich mich mit ihm beraten. Seitdem war er stets ein sehr geschätzter Ratgeber, Gesprächspartner und zugleich jemand, mit dem ich offen sprechen konnte und der ebenso offen antwortete und nicht taktierte, sondern Widersprüche und Unklarheiten aushalten konnte, dabei aber auch Humor hatte, zugleich ein wandelndes Lexikon war und auch noch mitten in der Nacht E-Mails oder Anrufe beantwortete. Dabei schaute er über den eigenen Tellerrand, war interessiert an Entwicklungen in anderen Ländern und kritisch zur hiesigen Politik eingestellt, aber auch hierzu gut informiert.

Manchmal habe ich mich gefragt, ob er mit Indonesien verheiratet ist und ob ihm das eigentlich gut tut, ob er nichtmal Abstand braucht oder vielleicht auch an Entwicklungen in dem Land leidet. Mir selbst hat es gutgetan, mich von den Entwicklungen in den Philippinen emanzipieren zu können und mich stattdessen mit anderen Ländern zu beschäftigen. Aber da muss wohl jeder seinen eigenen Weg und Frieden mit finden.

Ich wünsche Alex, dass ihm dies gelungen ist. Ich hatte schon wenig von seinem Abschied bei Watch mitbekommen, deshalb kann ich das gar nicht beurteilen. Als späterer Journalist, der oft schnell eine Einschätzung oder ein druckfähiges Zitat braucht, war ich sehr dankbar für Alex’ Wissen, seine Analyse- und Ausdrucksfähigkeit. Doch fehlt er nicht nur als Experte und NGO-Aktivist, er war auch ein angenehmer Mensch mit viel Geduld, der auch einfache Dinge des Lebens genießen konnte, sich aber nicht in den Vordergrund spielte und stets unprtätentiös, aber an der Sache interessiert war. Ein großer Verlust!

Sven Hansen, Asien-Redakteur der taz

******************

“Obwohl zum Innehalten die Zeit nicht ist, wird einmal keine Zeit mehr sein, wenn man jetzt nicht innehält …” (Christa Wolf)

Lieber Alex,

unsere ersten Begegnungen sind rund 20 Jahre her. Ich war Volontärin bei der taz und konnte aus meinem WG-Zimmer über den Landwehrkanal zum Büro von Watch Indonesia! schauen. Ich war beeindruckt von diesen Treffen im Watch- Büro, von den vielfältigen gedanklichen Perspektiven und Begegnungen, die sie mir eröffneten. Beeindruckt war ich auch von dir und deiner Lebendigkeit, die sich in deinem wachen Blick und deinem unverwechselbaren Alex-Lachen, das so oft aus dir heraus hüpfte, zeigte. Beeindruckt von deinem immensen Wissen, dass du immer gern geteilt hast, beeindruckt von deinem unermüdlichen Einsatz bei und für Watch Indonesia!

Ich habe damals nicht sofort „ja” gesagt, als Moni und Du mich fragten, ob ich nicht aktives Watch- Mitglied werden wolle. Journalisten sollten neutral sein, hatte man mir während des Studiums eingetrichtert. Was für eine absurde Anforderung, neutral zu sein in einem System, in dem für den Profit einiger Weniger unsere natürlichen Lebensgrundlagen geopfert werden und in dem nicht alle Menschen die gleiche Chance auf ein gutes Leben haben. Diese Erkenntnis setzte sich bald durch und so folgten viele Jahre des gemeinsamen Engagements bei Watch Indonesia!

Der Generationenwechsel bei Watch in den letzten Jahren war nicht leicht: nicht für dich, nicht für dein persönliches Umfeld, nicht für den Verein. Du fehlst, dein Einsatz fehlt, deine scharfsinnigen Analysen fehlen. Dein Lachen fehlt. Und ich bedaure, dass ich mir zu deinen Lebzeiten nicht die Zeit genommen habe, dir das noch einmal zu sagen. Ich bedaure, dass für dich und den Verein zuletzt keine gemeinsamen Wege mehr gefunden werden konnten.

Und es ist das, was ich gerade in diesem Moment der Trauer und des Innehaltens für die Zukunft mitnehme: Dass wir uns nicht in dem verlieren sollten, was uns trennt. Sondern uns auf das besinnen und uns in dem stärken sollten, was uns vereint. Dafür möchte ich mir mehr Zeit nehmen, Zeit zum Innehalten, Zeit zum Mitfühlen, Zeit zum gegenseitigen Verstehen…

Rest in power and in peace, Alex….

Anett Keller

******************

Mit großer Bestürzung und Traurigkeit habe ich die Nachricht über Alex Flors schwere Krankheit und seinen plötzlichen Tod gelesen.Ich möchte Euch und all seinen Hinterbliebenen mein tiefstes Mitgefühl und Beileid aussprechen.Ich hatte Alex im Rahmen des Ehrengastauftritts von Indonesien bei der Frankfurter Buchmesse 2015 kennengelernt. Während der Vorbereitungen zum Ehrengastauftritt hatten wir uns einige Male in Berlin und Frankfurt getroffen und er war uns immer mit seinem großen Wissen und seinem unbändigem und kompromisslosen Engagement in Menschenrechts- und Umweltfragen ein sehr wichtiger Partner, Berater und Orientierungshilfe. Ich habe seine Arbeit, sein Wissen, aber auch sein Commitment und Tatendrang sehr geschätzt und unheimlich viel von ihm gelernt.Den Newsletter von watchindonesia habe ich auch Jahre nach dem Ehrengastauftritt immer interessiert verfolgt und hoffe sehr, dass Ihr diese tolle, engagierte und wichtige Arbeit fortführt und seine Energie Euch weiterhin ein Motor und Inspiration bleibt.

 
Alles Liebe und viel Kraft in diesem schwierigen Moment,
 
KARINA GOLDBERGProjektmanager Ehrengast-Programm 

******************

Es war um 1990 herum, als ich ersten Kontakt mit Alex hatte. Mit ihm und Pipit saßen wir zusammen und haben uns über die damals kritische Situation in Indonesien, in Ost-Timor ausgetauscht. Es waren lebhafte und anregende Begegnungen vor dem Hintergrund, dass Watch Indonesia! als NGO den verbotenen, verlorenen, vergessenen Stimmen des indonesischen Archipels im deutschsprachigen Raum Gehör verschaffen wollte. Die Vernetzung mit anderen engagierten und aktiven Organisationen war angezeigt – und so entwickelte sich eine enge Zusammenarbeit mit der Deutsch-Indonesischen Gesellschaft in Köln.

Probleme der Menschenrechte, demokratischer Strukturen, soziale, ökologische wie ökonomische Fragen und auch kulturelles Engagement boten ausreichend Themen und Anlässe für unterschiedliche Initiativen und Programme – hier und auch in Indonesien. Publikumswirksame Aktionen wie aber auch vertrauliche Hintergrundgespräche und persönliche Verbindungen waren über Jahrzehnte Basis für eine erfolgreiche Arbeit. Die Vernetzung vieler Kontakte waren ein Kernstück der Anstrengungen, die Alex geschickt organisierte. Sowohl im bilateralen Zusammentreffen als auch in den über viele Jahre ausgerichteten Treffen deutscher NGOs zu Indonesien und Timor oder Papua wurden Informationen ausgetauscht, Zusammentreffen vermittelt, Aktionen vor- und nachbereitet.

Wortgewaltig, leidenschaftlich, kenntnisreich, mit Witz und Schlagfertigkeit sowie enormem Fleiß ist Alex der Motor einer Vielzahl von Unternehmungen gewesen. Ja, auch streitlustig und kontrovers ging es dabei oft zu; manches Salz wurde in die Suppe zu gleichgültigen oder harmoniesüchtigen Auseinandersetzungen gekippt. Er verkörperte eine unüberhörbar klare Haltung. Professionelle Analysen und mutige Thesen kennzeichneten die feste Überzeugung im Einsatz gegen Ungerechtigkeiten, Benachteiligungen, Abgestumpftheit. Etwas sagen oder machen zu müssen, war die Triebfeder für ihn. Kontroversen bleiben dabei nicht aus. Gleichwohl hat er zielgerichtet und ehrlich die Ideen verfolgt, die er in privaten und öffentlichen Veranstaltungen mit der Rückendeckung des Teams von Watch Indonesia! realisieren konnte. So auch in der Zeitschrift Suara und vielen anderen Veröffentlichungen (wie z.B. in Jungle World).

Die DIG hat eine Reihe von Programmen in Köln mit ihm durchgeführt oder war Partner in Konferenzen und Seminaren von oder mit Watch Indonesia! Wir bedauern und beklagen den Verlustdurch den Tod von Alex. Die Kooperation ist eine Bereicherung gewesen. Unser Beileid gilt der Familie.

Eine persönliche Anmerkung noch: Alex ist bei seiner Eheschließung mit Dina Sihombing dem traditionellen Ritual der Batak aus Nordsumatra gefolgt und von der Marga der Nababan adoptiert worden. Auch ich bin durch Hochzeit ein Batak geworden – Marga Pardede – und grüße Lae Alex mit  H o r a s !

Karl Mertes

Deutsch-Indonesische Gesellschaft e.V.

******************

Dear colleagues,

I wanted to offer my condolences for the loss of Alex Flor. He was an impressive person, not just for the effectiveness of his activist work but his personal generosity and kindness. He delighted in the accomplishments of people who had been volunteers at Watch Indonesia and then gone on to do other work. As he wrote to me in 2018, “the list of successful careers that began with an unpaid internship at our small office is becoming longer and longer.”
His work – and the work of Watch Indonesia – was regarded as credible even by institutions which had different priorities than Watch Indonesia’s. GIZ, German Academic Exchange Service (DAAD) and similar institutions accepted Watch Indonesia! as a serious, credible and well-informed NGO. Alex understood that this credibility opened the door for dialogue.
On one occasion in 2018 (I think), an activist from Central Java found himself in difficulties regarding his visa. Watch Indonesia had invited him to lead a protest campaign in Germany against the investment of a German cement factory there. The people at the German Embassy in Jakarta knew that the public campaign would end with a coordinated demonstration in Germany as well as in Jakarta, in front of the German Embassy itself. The Embassy knew about the plans, because Alex never made a secret about it. The political attaché resolved the visa problem in only a couple of minutes after Alex gave him a call. It’s noteworthy that in Heidelberg they didn’t even send the police to observe the demonstration, as they usually do. They trusted Alex and Watch Indonesia to keep the demonstrations peaceful. (They had had a similar public action the year before, and understood how Alex operated.) Two policemen came by to document the action on one occasion but left after ten minutes.
In 2012 or 2013 Watch Indonesia had a demonstration in front of Chancellor Merkel’s office protesting German arms exports (Leopard tanks) to Indonesia. (One of their main arguments was the human rights situation in Papua.) Alex was personally responsible for the demonstration. Two weeks later he got a phone call from the Berlin Police. “Hello, yes it’s about your demo against arms exports and the HR situation in Papua.” “What’s the matter?” Alex asked, “the demonstration was two weeks ago. Everything was fine.” “Oh yes of course, everything was fine, and that’s why we’re calling. Actually now there is another group of West Papua Freedom Fighters from the Netherlands. They’re planning a similar protest action at the same place and for the same reasons. But they seem to have language problems. They could not fill out the forms as needed. They need some help. That’s why we, the Police of Berlin, would like to ask you whether you’d like to take responsibility for their demonstration, too. We want to enable them to have their legitimate protest action in front of the Chancellor’s Office. But of course, the forms need to be filled according to the rules. And so on. Very hard for people unfamiliar with the scene in Germany to believe that Embassy staff or the Police are so helpful in organizing protest actions – under a ruling government that in Germany was called “conservative”. But that was Alex and Watch Indonesia’s credibility.
 
Clinton Fernandes
Canberra
Australia
 
******************
 
Alex war sehr gut vernetzt. Er teilte Kontakte mit mir, die mir
langjährige Beziehungen zu sozialen Bewegungen in Indonesien eröffneten.
Ich denke, anderen hat er ähnliches ermöglicht.
 
******************
 
Wir trauern um Alex Flor. Ein Freund, ein Kämpfer, ein absolut intelligenter
und Gerechtigkeit liebender Geist. Ein Vorbild.
Ein Mensch, so einmalig. Er fehlt, aber er lehrt uns, und er hat soooo viel
aufgebaut, was wir weiterführen können. Es ist an uns, für
Gerechtigkeit an Mensch und Natur zu kämpfen – und sei es nur mit einem
Teil seiner Hingabe, seiner Leidenschaft und seines scharfen Verstandes.
ALEX, mir fehlen die Worte, es schmerzt, Dich nicht mehr treffen und
hören zu können. Mein Beileid an alle Deine Lieben und
MitkämpferInnen. Salam, HORAS, selamat jalan, ALEX! Christine Schreiber
vom Sidihoni VerlagIch selber kenne Dich seit den frühen 90ern. Mein Weg: Erster
Aufenthalt in Indonesien 1982; später lange dort gewesen für
verschiedene Feldforschungsaufenthalte. Jedoch unter welchen Umständen!
Im Studium links-politisch aktiv, registriert in einem Bundesland, das
den “Radikalenerlass” herausgebracht hatte unter Filbinger. Keine
Chance, ein Forschungsvisa in Indonesien vor solch einem Hintergrund
unter Suharto zu bekommen. Alles self-made self-financed damals….
Angst, IndonesierInnen durch die eigenen Aktivitäten zu gefährden….
Angst, als das Land unter Suharto zerbrach vor dem was folgen
könnte…. damals gab es kaum jemanden, um sich auszutauschen in
Deutschland… aber doch, es gründete sich Watch Indoesiea! mit Dir,
Alex und einigen MitstreiterInnen der ersten Stunde. (Ich denke an
Gertrud und Rolf). Unsere Treffen bei Seminaren der VEM und anderen
Trägern waren eine klasse Vernetzung in den ersten Jahren und ein
toller Rückhalt. Allmählich sickerten unsere Themen durch in die
anderen NGOs und in die Gesellschaft. Alex, es ist knapp 30 Jahre her
und Du hast die politische Landschaft in der BRD geprägt. Gute
Vernetzung in alle Richtungen, Watch! ist heute ein FAKT, danke an alle
MitstreiterInnen!Ich selbst habe den Sidihoni-Verlag gegründet, meine Themen und
berufliche Orientierung fanden andere Schwerpunkte, manchmal lehnte ich
mich nach hinten und dachte, ach toll, die von Watch sind dran… die
machen das schon, so auch die LGBT Unterstützung…. gut zu wissen,
dass eine NRO einfach gut arbeitet, aber falsch, die Hände in den
Schoß zu legen. Nun sind WIR dran, weiterzuführen was Not tut. Du hast
eine super Basis gelegt für all unsere zukünftigen Aktivitäten, Danke
Dir, Alex.
Ruhe in Frieden. Ich weine, Du fehlst. Als Mensch, als Kämpfer und als
humorvoller, spritziger Geist. Komet des Wissens – mit einem Lächeln
und einer Kretek in der Hand.
Möge Deine Frau alle Unterstützung finden, die sie braucht, möge Dein
Werk weiter gedeihen, möge Gerechtigkeit zunehmen. Salam anak nakal!
 
Christine Schreiber aus dem Süden Deutschlands
 
******************
 
Lieber Alex, 
es ist schwer zu verstehen, dass Du nicht mehr da bist. Ich weiß nicht mehr, wann wir uns das erste Mal begegnet sind. Aber Deinen Namen kannte ich gefühlt schon immer – schon bei meinen Eltern gab es die Suara. Wir haben uns dann an den verschiedensten Orten, zu unterschiedlichsten Anlässen, in den verschiedensten Rollen getroffen – mal verabredet, oder weil wir die gleichen Leute kannten oder auch mal ganz zufällig, zum Teil beruflich, aber spätestens bei kretek oder einem Feierabendbier auch immer persönlich. Und immer wusste ich, dass Du erreichbar bist, dass Du jederzeit und mit überwältigender Selbstverständlichkeit und Integrität bereit warst, Dein Wissen, Deine Gedanken und Einschätzungen, Deine Zeit zu teilen. Danke für all die fröhlichen Begegnungen und intensiven Gespräche, für die partnerschaftliche Zusammenarbeit und Deine Zuverlässigkeit. Salam damai dan selamat jalan Alex.
 
Claudia
 
******************
 
Alex hatte zugegeben seine Ecken und Kanten. Er wollte sich in Alles bis
in die letzte Tiefe einarbeiten und es verstehen, egal ob politische
Zusammenhänge oder die EDV bei WatchIndonesia! Buchhaltungssoftware
wurde im Zweifelsfall lieber programmiert als gekauft, damit auch jede
Formel transparent nachvollziehbar ist. Er hatte ein unermessliches
akkumuliertes Wissen über politische Zusammenhänge, handelnde
Personen, Prozesse und Wendepunkte in Indonesien. Vertiefung und
Austausch erfolgte am liebsten in endlosen Debatten bei Bier und
Kreteks. Ein 24-Stunden-Tag reichte ihm oft nicht und so verlängerte
sich die Kernarbeitszeit in der Regel bis nach Mitternacht. Gesund war
das sicher nicht, aber das musste bei ihm so sein.Wenn man nicht über Indonesien sprach, konnte man auch über Umwelt-
und Weltpolitik im Allgemeinen mit ihm philosophieren. Bis spät in die
Nacht – wann sonst – haben wir auch schon mal über Israel und den
Nahen Osten debattiert.
 
„Baruch Dayan Emet“ (jüdische Beileidsbekundung)
 
Olaf
 
ehemaliges Vorstandmitglied
 
******************
 
Lieber Alex Flor,nun wird es keine Möglichkeit mehr geben, Dir persönlich zu sagen, wie
sehr Du mich durch Deine Arbeit mit den MENSCHEN in Indonesien vertraut
gemacht hast.Obwohl wir uns nur flüchtig persönlich gekannt haben, hat mich Dein
lebendiger Einsatz, mit Deiner ganzen Person, tief beeindruckt. Dein
Engagement und Deine profunden Infos haben mir geholfen, zwischen den
Menschen in Indonesien und ihren vielfältigen Kulturen einerseits und
den machtbesessenen Apparatschiks andererseits zu differenzieren.
 
Besonderen Dank auch für Deinen Einsatz für West-Papua.
 
Rest in Peace.
 
Ingrid Schilsky, Hamburg
 
******************
 
Unfassbar war die Nachricht, schockierend und irgendwie nicht zu
glauben. Alex, Du hast uns verlassen. Nicht nur unsere gemeinsame Liebe
zu Indonesien und vorallem zu seinen Menschen verband uns. So manche
Raucher-Pause bei Konferenzen, Netzwerk-Meetings und anderen
Veranstaltungen nutzten wir zu intensiven Gesprächen, zusätzlichem
Informationsaustausch, witzigen Dialogen und humorvollen Diskussionen.
All das und vorallem Dich werden wir vermissen.
Du bleibst in unseren Herzen.
Selamat Jalan, lieber Alex!
 
Claudia Lang
 
******************
 
Alex,bestürzt erfahre ich gerade von deinem Tod. Wir kannten uns zig Jahre. Ich
werde die animativen und scharfsinnigen Diskurse mit dir vermissen. Du
warst ein engangierter und guter Mensch.
 
Berlin, Mai 2021
 
Mike E. Hahn
 
******************
 
Bestürzt und mit tiefer Trauer haben wir den plötzlichen Tod von Alex Flor aufgenommen. Als wirkmächtige Stimme im deutschsprachigen Raumfür soziopolitische Fragen und Menschenrechte in Indonesien haben uns Alex’ Analysen seit Jahren in unserer Arbeit begleitet. Die gelegentlichen persönlichen Begegnungen bei Veranstaltungen von Watch Indonesia und dem Westpapua Netzwerk waren stets eindrückliche Momente.Wir werden Alex als Persönlichkeit vermissen. Mit unseren Gedanken und großer Anteilnahme sind wir bei seiner Familie und seinen engen Freunden.
 
Mathias Waldmeyer für Mission 21, Basel
 
******************